Tragedi
Malam Hari
Hari demi hari terus
berlalu, Ayu tak henti-hentinya menanyakan keberadaan Ucil, kucing
kesayangannya.
“Yah, Ucil dimana ya?” tanya Ayu kepada ayahnya.
“Mungkin sedang bermain. Tunggu saja, biasanya juga
pulang sendiri,” jawab ayah menghibur Ayu.
Ya, sudah satu minggu terakhir kucing kesayangan Ayu
yang baru lahir beberapa bulan yng lalu itu tidak ada dirumah. Tidak hanya
kucing kecilnya, induknya pun juga tidak pulang ke rumah. Ayu sangat menyayangi
kucing kecilnya yang baru aktif-aktifnya itu. Hanya dia yang menemani hari-hari
Ayu. Ayah dan ibunya kerja dan hanya malam hari mereka bertemu. Itupun dalam
keadaan capek karena sudah bekerja seharian sehingga orangtuanya langsung
istirahat. Ayu hanya bisa diam dan mencoba memahaminya. Kakaknya berada di
rumah, tetapi sibuk dengan media sosialnya. Hanya kucingnya yang bisa diajak
bermain yang saat ini malah tidak pulang.
Melamun. Malam yang sepi
dan dingin, Ayu duduk melamun di sudut kamarnya. Dia terus memikirkan kucingnya
yang hilang.
Ayah
menghampiri Ayu seraya berkata, “Sudah, tidak perlu bersedih. Nanti pasti
pulang sendiri. Kalaupun tidak pulang, ya ikhlaskan saja,”
“Tapi Yah,” perkataannya terpotong.
“Ayah tahu kamu sudah merawatnya dari kecil,
menjaganya, dan sangat menyayanginya. Tapi tak ada gunanya kamu bersedih hanya
karena kucing,” ucap Ayah lalu keluar dari kamar Ayu, belum sempat Ayu
menimpalnya.
Ayu teringat ada tugas yang harus dikumpulkan besok.
Ayu mengerjakannya dan mencoba merelakan kucingnya. Sedang santainya
mengerjakan tugas, kakak dan ibu Ayu masuk ke dalam kamar. Mereka bermaksud
untuk menghibur Ayu. Mereka mencoba berbicara hal baru untuk mengalihkan
kesedihan Ayu, namun Ayu tetap membahas kucingnya yang hilang.
“Aku bersumpah kalau orang yang membunuh atau meracuni
kucing akan terkena penyakit parah dan tidak bisa sembuh,” ucap Ayu saat
berbincang dengan ibu dan kakaknya.
Tiba-tiba pyaarr...,
sebuah gelas yang ada di depan Ayu dibanting. Ayu terperanjak dan ibunya
langsung naik darah. Ini sudah kesekian kalinya kalau ada yang marah pasti
suasana rumah menjadi kacau. Ayu takut, ia langsung berlari menuju kamar depan
dan mengunci kamar. Semua orang yang ada di dalam rumah mendekati tempat suara.
Sempat terjadi kekacauan diluar kamar, Ayu hanya menangis di dalam kamar.
Ayahnya mencoba membujuk Ayu untuk membuka pintu kamar namun Ayu tidak
membukakan pintu kamar. Ayahnya masih tetap membujuk dan mengancam akan
mendobrak pintu kamar. Ayu kemudian membukakan pintu kamar.
“Ada apa Yu, kenapa kamu menangis?” tanya Ayah.
“Tidak apa-apa kok Yah,” jawab Ayu sesenggukan.
“Tidak mungkin kamu tidak kenapa-kenapa orang kamu aja
menangis,”
“Ayu capek Ayah, setiap hari Ayu sendiri, cuma bermain
dengan kucing tetapi malah kucing Ayu hilang,”
“Ayu sering ingin bercerita, ada waktu luang dengan
keluarga, tapi apa, semua sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Ayu tahu itu
semua demi Ayu, tapi Ayu juga ingin kebersamaan,”
“Ayah tahu, maafkan Ayah Yu, nanti Ayah carikan kucing
lagi untuk kamu. Sudah, sekarang Ayu teruskan belajarnya, biar Ayah bereskan
pecahan kacanya,”
Kemudian Ayu melanjutkan
belajar di kamar depan. Barang-barang yang ada di kamar belakang tadi sudah
dibawa Ayu kedepan waktu gelas dibanting.
Ayu masih terisak dan masih teringat kejadian tadi.
Ini sudah kesekian kalinya Ayu mengalami tragedi. Tragedi yang dari kecil sudah
Ayu alami. Mulai dari barang pecah, pukulan, dan kejadian lainnya yang masih
terekam jelas di memori Ayu.
Sejak
saat itu selama beberapa hari Ayu terdiam. Dia hanya berbicara seperlunya.
Orang rumah sudah tahu kalau setelah ada kejadian yang membuat Ayu kembali
trauma pasti dia hanya terdiam. Kali ini berbeda dengan biasanya. Cukup lama
Ayu terdiam. Biasanya hanya beberapa hari saja. Setelah beberapa minggu suasana
dalam rumah seperti biasa dan Ayu mempunyaikucing baru lagi.
THE END
Harus mengejarmu sampai habis kesabaranku!
BalasHapusMaafkan Pak. Sekarang saya sudah tidak punya hutang Pak?
BalasHapus